Gelandang andalan Luciano Spalletti di lini tengah permainan AS Roma, Alessandro Florenzi terpaksa melewati satu pertandingan antara timnya melawan Crotone pada pekan ke 24 Serie A Italia akhir pekan lalu, lantaran pada sesi latihan, Ia mengalami kesakitan di area lutut dan harus mendapatkan perawatan.

Alessandro Florenzi

Alessandro Florenzi mengalami cedera ACL

Giallorossi sendiri pada laga yang dihelat di Stadio Ezio Scida, markas PitagoriciĀ mampu membawa pulang poin penuh, setelah Radja Nainggolan dan Edin Dzeko menjadi aktor kemenangan 0-2.

Kini, Roma menempati posisi kedua dengan raihan 53 angka, terpaut hanya tujuh poin dari sang pemuncak klasemen, Juventus.

Pada sesi latihan tersebut, Florenzi sendiri sejatinya masih dalam proses penyembuhan, setelah dirinya melakukan operasi untuk menyembuhkan cedera pada bagian ligamen anterior di lutut kirinya, yang Ia derita sejak tanggal 26 Oktober 2016 lalu.

Namun tetapi, justru latihan itu mengakibatkan lutut bagian kirinya kembali sakit. Sejauh ini, pihak klub belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai kabar terbaru pemain asal Italia tersebut.

“Saat ini, Florenzi harus kembali beristirahat dalam waktu dua hari, setelah itu, Dia akan mendapatkan perawatan, demi menghilangkan rasa sakit yang dideritanya,”

“Mengenai seberapa parah cedera yang Ia alami saat sesi latihan kemarin, akan dicek pada hari Jumat mendatang oleh tim medis. Ia juga akan berkonsultasi dengan seorang spesialis bernama dr. Mariani,” pernyataan klub AS Roma.

Mengenal Cedera Lutut

Sepakbola merupakan sebuah permainan yang mengandalkan kekuatan fisik dan kondisi seorang manusia. Sehingga, benturan tidak dapat dihindarkan, akibatnya, pemain sepakbola harus mengalami cedera.

Cedera ACL

Cedera ACL menjadi momok menakutkan bagi para pemain sepakbola

Kata sebuah ‘cedera‘ menjadi momok tersendiri bukan hanya untuk para pemain olahraga, tetapi juga bagi pelatih hingga jajaran manajemen klub.

Salah satu cedera yang paling banyak dihindari oleh pesepakbola profesional adalah di bagian lutut, atau yang dikenal dengan sebutan ACL (Anterior Cruciate Ligament).

Cedera tersebut membutuhkan waktu penyembuhan yang terbilang sangat lama, mulai dari pemeriksaan, proses pengobatan, rehabilitasi, hingga tentu kembali normal.

Salah seorang spesialis orthopedi dan traumatologi dari Sport Medicine Center RS Royal Progress, Sunter bernama Dr. I Gusti Made Febry Siswanto, SpOT menyebutkan bahwa seorang atlet yang menderita ACL idealnya membutuhkan waktu enam sampai sembilan bulan lamanya. Padahal, hal tersebut setelah atlet melalukan operasi Arthroscopy atau teropong sendi.

“Seseorang atlet yang menderita cedera ACL, harus beristirahat hingga sembuh total paling cepat selama enam bulan. Hal itu setelah atlet tersebut mendapatkan perawatan operasi Arthroscopy,” ujar Siswanto.

Lebih lanjut, Siswanto menjelaskan bahwa operasi teropong sendi dapat dibayangkan dengan bagian lutut dilakukan penyayatan berukuran cukup panjang, sehingga proses penyembuhannya memakan waktu yang sangat panjang.

Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, operasi Arthroscopy saat ini sudah memungkinkan untuk menggunakan kamera berukuran kecil, guna mendeteksi bagian ligamen yang robek. Bahkan, lutut yang disayat sekarang ini tidak melebihi dari 10 mm (milimeter).

Proses Cedera ACL di Indonesia

Di Indonesia sendiri, untuk penanganan seorang atlet yang menderita cedera ACL, sejauh ini belum berkembang begitu pesat layaknya pengobatan dari tim medis di luar negeri. Hal tersebut diungkapkan oleh Siswanto.

Cedera ACL

Proses penyembuhan cedera ACL membutuhkan waktu yang cukup panjang, enam hingga sembilan bulan

“Penanganan cedera ACL di Indonesia belum berkembang dengan baik. Mungkin dikarenakan biaya pengobatan yang sangat mahal, yakni sekitar Rp 60 juta. Biaya tersebut mengingat teknologi yang digunakan dalam proses cedera ACL sangatlah canggih,”

“Dimana alat canggih tersebut tidak dapat digunakan kembali, tidak seperti operasiĀ konvensional yang alatnya dapat disterilkan,” tutup Siswanto.